Kalau kita bicara soal kerajaan-kerajaan besar Nusantara, Majapahit dan Sriwijaya mungkin langsung melintas di pikiran. Tapi, ada satu kerajaan yang umurnya singkat, namun pengaruhnya begitu dalam dan meninggalkan jejak yang sampai sekarang bikin kita terpana. Ya, itu adalah Kerajaan Singasari. Berdiri di abad ke-13 di daerah yang sekarang kita kenal sebagai Malang, Jawa Timur, kerajaan ini ibarat bintang yang meledak dengan terang tapi cepat padam. Namun, ledakannya itu meninggalkan serpihan cahaya berupa peninggalan kerajaan Singasari yang tak ternilai harganya. Mulai dari candi megah, arca-arca dengan detail memukau, sampai cerita-cerita heroik yang melegenda. Yuk, kita telusuri satu per satu warisan mereka yang masih bisa kita saksikan dan pelajari hari ini.
Latar Belakang Singkat: Dari Ken Arok sampai Kertanegara
Sebelum masuk ke bendanya, penting banget buat ngerti konteks sejarahnya. Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222, setelah dia berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri. Kisah hidup Ken Arok sendiri kayak novel drama politik penuh intrik. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya di masa Raja Kertanegara, raja terakhirnya, yang bercita-cita besar menyatukan Nusantara lewat ekspedisi Pamalayu. Sayangnya, ambisi ini berakhir dengan tragis saat Jayakatwang dari Kediri memberontak dan menyerang Singasari pada 1292. Meski runtuh, estafet kekuasaan diteruskan oleh menantu Kertanegara, Raden Wijaya, yang kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit. Jadi, banyak peninggalan kerajaan Singasari yang juga menjadi fondasi budaya dan politik untuk Majapahit.
Candi-Candi Megah yang Menjadi Saksi Bisu
Ini nih, bukti fisik paling nyata dari kejayaan Singasari. Candi-candinya punya karakter yang kuat dan unik, berbeda dengan candi-candi dari periode sebelum atau sesudahnya.
Candi Singosari: Candi Kerajaan yang Anggun
Terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Malang, candi ini sering disebut Candi Singosari atau Candi Menara. Candi ini diduga kuat adalah tempat pendharmaan (penyimpanan abu) bagi Raja Kertanegara. Yang bikin menarik, arsitekturnya sudah menunjukkan peralihan gaya dari masa Kediri ke masa Majapahit. Candi ini terbuat dari batu andesit dan reliefnya tidak sebanyak candi-candi di Jawa Tengah, lebih sederhana namun tetap elegan. Sayangnya, candi ini belum selesai dibangun. Di halaman candi, kamu bisa menemukan arca-arca penjaga dwarapala yang berukuran raksasa dan ekspresif, dowusa.org menunjukkan kekuatan dan kewibawaan kerajaan.
Candi Jago: Mahakarya dengan Cerita Panjang di Dindingnya
Candi Jago (atau Jajaghu) di Kecamatan Tumpang, Malang, ini spesial banget. Candi ini didirikan untuk menghormati Wisnuwardhana, ayah dari Kertanegara. Yang membuat Candi Jago istimewa adalah reliefnya. Bukan lagi cerita Ramayana atau Krishnayana yang umum, tapi relief di sini mengisahkan cerita Tantri (fabel), Kunjarakarna, dan Parthayajna. Cerita-cerita ini penuh dengan nilai moral dan filosofis. Gaya pahatannya pun unik, disebut "wayang kulit", karena figur manusia digambarkan profil seperti wayang dengan detail yang sangat halus. Ini adalah salah satu peninggalan kerajaan Singasari yang menunjukkan kedalaman intelektual dan spiritual masyarakatnya.
Candi Kidal: Persembahan untuk Anusapati yang Misterius
Candi Kidal, terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, punya aura yang sedikit berbeda. Candi ini didirikan sebagai tempat pendharmaan Anusapati, raja kedua Singasari yang dibunuh oleh Panji Tohjaya. Arsitekturnya ramping dan tinggi, dengan hiasan yang sangat indah. Perhatikan bagian kaki candi yang dihiasi panel relief cerita Garudeya, mitos tentang Garuda yang membebaskan ibunya dari perbudakan. Relief ini bukan sekadar hiasan, tapi simbol pembebasan arwah Anusapati. Detail ornamen makara (mulut raksasa) dan kinara-kinari (makhluk setengah manusia setengah burung) di sini sangat memukau, menunjukkan puncak keterampilan seni pahat masa itu.
Arca-Arca dengan Karakter "Singasari Style" yang Kuat
Selain candi, peninggalan kerajaan Singasari yang paling memesona adalah arca-arcanya. Punya ciri khas yang mudah dikenali: wajah yang lebih membulat, senyum yang samar (arcaik), tubuh yang gemuk dan berisi, serta perhiasan dan pakaian yang sangat detail. Arca-arca ini tidak kaku, tapi terasa hidup dan penuh karakter.
- Prajnaparamita: Dijuluki "Perempuan Cantik dari Singasari", arca ini adalah personifikasi dari Dewi Kebijaksanaan. Sekarang jadi koleksi utama Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Detailnya luar biasa, dari gelung rambut, anting-anting, kalung, sampai kain yang dililitkan di tubuhnya. Ekspresi wajahnya tenang dan bijaksana, diyakini sebagai perwujudan Ken Dedes, ibu dari para raja Singasari.
- Dwarapala: Patung penjaga gerbang ini adalah ikon dari Singasari. Ukurannya bisa setinggi 3-4 meter! Dwarapala Singasari digambarkan dalam posisi jongkok atau duduk, dengan ekspresi wajah yang sangar, mata melotar, dan membawa gada. Patung-patung ini biasanya ditempatkan di pintu masuk tempat-tempat sakral atau kerajaan, sebagai penolak bala. Yang terkenal ada di dekat Candi Singosari.
- Arca Brahma, Wisnu, Siwa, dan Ganesha: Banyak ditemukan di sekitar kompleks candi Singasari. Arca-arca dewa ini memiliki proporsi tubuh yang khas Singasari dan sering menjadi objek pemujaan.
Warisan yang Tidak Kasat Mata: Pengaruh Politik dan Kesusastraan
Peninggalan kerajaan Singasari nggak cuma yang berbentuk batu dan arca, lho. Warisan tak benda-nya justru mungkin lebih berpengaruh.
Gagasan Cakrawala Mandala dan Ekspansi
Raja Kertanegara punya visi besar: menyatukan Nusantara. Dia percaya pada konsep "Cakrawala Mandala", di mana kekuasaan raja harus melindungi seluruh wilayah. Ekspedisi Pamalayu ke Sumatra (1275) adalah buktinya, yang bertujuan menguasai Selat Malaka dan menjalin aliansi dengan kerajaan-kerajaan di sana. Gagasan penyatuan Nusantara inilah yang kemudian diwarisi dan dilaksanakan dengan lebih luas oleh Majapahit di bawah Hayam Wuruk dan Gajah Mada dengan Sumpah Palapa-nya.
Karya Sastra Kitab Negarakertagama
Meski ditulis di era Majapahit oleh Mpu Prapanca, kitab kakawin Negarakertagama (1365) adalah sumber sejarah utama tentang Singasari. Dalam kitab inilah silsilah raja-raja Singasari, peristiwa-peristiwa penting, dan kebijakan Kertanegara didokumentasikan. Tanpa kitab ini, kita mungkin akan kehilangan banyak sekali informasi berharga. Ini menunjukkan bahwa Majapahit sangat menghormati dan mengakui leluhur mereka dari Singasari.
Fusi Kepercayaan: Siwa-Buddha
Kertanegara dikenal sebagai penganut Tantrayana dan aktif mendorong sinkretisme (perpaduan) antara agama Siwa dan Buddha. Dia dianggap sebagai penjelmaan Siwa-Buddha. Konsep ini tercermin dalam beberapa peninggalan kerajaan Singasari, seperti arca-arca yang memiliki atribut dari kedua kepercayaan. Kebijakan toleransi dan penyatuan ini menjadi pondasi kerukunan di masa setelahnya.
Di Mana Kita Bisa Melihat Peninggalan-Peninggalan Ini?
Buat kamu yang penasaran dan pengin lihat langsung, nggak usah bingung. Banyak kok yang bisa dikunjungi:
- Lokasi Asli: Datang langsung ke Malang. Kompleks Candi Singosari, Candi Jago, dan Candi Kidal mudah diakses. Rasakan aura sejarahnya langsung di tempat dimana mereka berdiri berabad-abad lalu.
- Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah), Jakarta: Di sinilah "si cantik" Prajnaparamita dan banyak arca Singasari lainnya disimpan dengan baik. Galeri arca di lantai dasar adalah surganya buat pencinta sejarah.
- Museum Trowulan, Mojokerto: Sebagai penerus Singasari, museum yang dekat dengan situs Majapahit ini juga menyimpan beberapa artefak dari era Singasari.
- Museum Mpu Purwa, Malang: Museum lokal ini koleksinya fokus pada peninggalan kerajaan-kerajaan di Malang, termasuk Singasari. Cocok untuk dapat informasi yang lebih mendetail.
Dilema dan Tantangan dalam Pelestarian
Meski sudah dilindungi, peninggalan kerajaan Singasari menghadapi beberapa tantangan. Cuaca, polusi, dan faktor alam lainnya menyebabkan pelapukan pada batu-batu candi dan arca. Belum lagi risiko vandalisme dan pencurian bagian-bagian kecil dari candi. Upaya konservasi terus dilakukan, seperti pemasangan atap pelindung di Candi Jago untuk mengurangi erosi air hujan. Tapi, yang paling penting adalah kesadaran kita sebagai pengunjung. Dengan tidak mencoret-coret, memanjat, atau mengambil bagian candi, kita sudah berkontribusi besar untuk menjaga warisan ini agar tetap bisa dinikmati anak cucu nanti.
Mengapa Peninggalan Singasari Masih Relevan Hari Ini?
Mempelajari peninggalan kerajaan Singasari itu bukan cuma sekadar nostalgia. Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Dari visi besar Kertanegara tentang persatuan, kita belajar pentingnya berpikir melampaui batas daerah sendiri. Dari seni pahatnya yang detail dan penuh makna, kita diajak menghargai ketekunan dan kecerdasan artistik leluhur. Dari sinkretisme Siwa-Buddha, kita diingatkan tentang indahnya toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Singasari mengajarkan bahwa meski sebuah entitas politik bisa runtuh, nilai-nilai, gagasan, dan karya seninya bisa abadi, melintasi zaman.
Jadi, lain kali kamu jalan-jalan ke Malang atau berkunjung ke Museum Nasional, sempatkanlah untuk berdiri lebih lama di depan salah satu peninggalan ini. Bayangkan getar ambisi Ken Arok, kedalaman pikiran Kertanegara, dan kecemerlangan tangan-tangan pemahat tak bernama yang telah meninggalkan cerita di batu untuk kita baca hari ini. Warisan Singasari adalah puzzle penting dalam mozaik sejarah Indonesia yang agung, dan kita beruntung masih bisa menyentuh potongan-potongannya.